Juventus dan Allegri Penghancur Karier, Mantan Pemain Bersyukur Bisa Segera Angkat Kaki

Senyum pelatih Juventus Massimiliano Allegri jelang pertandingan anak asuhnya melawan Cagliari dalam lanjutan Liga Italia di Sardegna Arena, Cagliari, Italia, Selasa (2/4). Si Nyonya Tua mengoleksi 81 poin dari 30 laga. (Marco BERTORELLO/AFP)

NAGA303 Satu lagi mantan pemain Juventus bersyukur bisa segera angkat kaki dari Allianz Stadium. Mereka kompak menilai Juventus dan pelatih Massimiliano Allegri penghancur karier dan kuburan bagi para pemain.

Setelah Matthijs de Ligt dan Denis Zakaria, kini giliran winger Dejan Kulusevski yang mensyukuri keputusannya segera berganti klub dan pindah ke Liga Inggris membela Tottenham Hotspur.

Kulusevski meninggalkan Juventus ke Tottenham pada bursa transfer Januari 2022 lalu. Pemuda Swedia itu tak banyak mendapat menit bermain sejak Massimiliano Allegri kembali melatih Juventus.

Awalnya Kulusevski pindah dengan status pinjaman selama 18 bulan. Tottenham Hotspur memiliki opsi mempermanenkannya senilai 45 juta euro. Opsi ini diperkirakan akan dipakai oleh Spurs karena pemuda 22 tahun itu seolah bangkit dari kubur saat pindah ke London. Kulusevski sukses menemukan sentuhan emasnya bersama tim asuhan Antonio Conte.

Dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport akhir pekan kemarin, Kulusevski mensyukuri keputusannya segera pergi dari Juventus yang diasuh Allegri. Dia merasa tak cocok dengan Juventus dan Allegri sehingga perlu melakukan perubahan dengan menjajal Liga Inggris.

“Saya tidak tahu, terkadang dalam sepak bola segalanya berjalan dengan baik. Saya tidak mengubah apa pun dalam beberapa bulan ini. Saya selalu pergi ke lapangan dengan komitmen penuh. Namun, di Juventus, ada sesuatu yang tidak berhasil terlepas dari seberapa banyak saya bekerja keras,” ujar Kulusevski.

“Saya lebih suka melihat ke depan daripada ke belakang. Tentunya, saya tidak baik-baik saja di Juventus karena berbagai alasan dan ketika Anda menyadari hal-hal tidak berjalan dengan baik, sulit untuk mengubah arah di lingkungan yang sama. Keputusan untuk meninggalkan Italia adalah yang terbaik yang bisa saya buat dalam situasi itu.”

“Semuanya berjalan lebih baik di Inggris. Di dalam dan di luar lapangan. Sekarang saya selalu ingin bermain sepak bola dan menang untuk tim saya.”

Kulusevski lantas membandingkan apa yang dialami di Juventus dan Tottenham. Kulusevski merasa lebih berkembang bersama Tottenham karena metode pelatihan dan gaya melatih Antonio Conte jauh lebih baik dibanding Allegri.

“Tubuh saya telah berubah di sini, terutama berkat bekerja di gym. Kami bekerja keras setiap hari, lebih dari yang saya lakukan di Italia. Saya suka cara kami bekerja di sini di London. Tentunya itu adalah jasa pelatih. Saya sangat senang bermain untuknya,” tutur Kulusevski.

“Jujur, ya, saya tidak ingin mengatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain, saya menghormati Allegri dan Conte. Mereka berdua telah memenangkan begitu banyak dalam karier mereka, tetapi ide mereka tentang sepak bola berbeda.

Gym

“Di Tottenham, kami bekerja lebih banyak di gym dan hasilnya ada di sana. Duniaku telah berubah. Saya harus mengatakan bahwa saya belum pernah bertemu seseorang yang termotivasi seperti Conte dalam hidup saya. Ketika seseorang seperti dia berbicara kepadamu, bakal masuk ke dalam hatimu.”

Bergabung dengan Tottenham, Kulusevski sudah mengoleksi enam gol dan 11 assists dari 29 peampilan diberbagai ajang. Di Juventus, Kulusevski cuma membuat sembilan gol selama dua setengah musim