Kas Hartadi: Latihan Bak Kuli Borongan demi Emas SEA Games 1991

NAGA303РMembawa Timnas Indonesia juara SEA Games 1991 itu menjadi pengalaman paling berkesan bagi saya. Apalagi kita tahu Indonesia di SEA games baru dapat medali emas pada 1987 dan 1991.
Waktu itu saya masih 21 tahun. Saya termasuk pemain paling muda di Timnas bersama Rochi Putiray, Widodo Cahyono Putro, Heriansyah, dan Aji Santoso. Saya kepilih masuk Timnas Indonesia untuk SEA Games dari PSSI Garuda 2.

Saat itu saya pakai nomor punggung 14, meski sebenarnya nomor favorit saya itu tujuh. Tapi waktu itu nomor tujuh sudah ada yang memakainya.

Saya main di posisi winger kanan. Dulu formasinya berubah-ubah kadang 4-4-2, kadang 3-5-2, kadang 4-3-3. Jadi formasinya itu tergantung lawan. Yang jelas wingernya itu ada saya sama Hanafing. Hanafing di kiri, saya kanan. Kami termasuk pemain inti. Tapi waktu itu semua pemain itu bermain ganti-gantian, karena lihat kekuatan lawan.

Kami persiapan menuju SEA Games hampir 2 tahun dengan latihan yang berat. Sehari kadang latihan sampai tiga kali dan kadang harus naik gunung Itu sangat berat.

Kami latihan biasanya mulai jam 7 pagi. Biasanya kami lari 12 kilometer, baik saat TC di Bandung maupun di Australia. Setelah lari 12 km kami istirahat sebentar. Kemudian jam setengah 11, kami sudah harus berada di hall lagi untuk latihan lagi. Nanti jam setengah tiga atau setengah empat sore sudah siap latihan lagi.

Ini bukan mengada-ada, ini realita. Rasanya tuh, kita main bola kok gini banget ya dari pagi sampai sore. Tapi senanglah sampai akhirnya bisa juara. Saya tetap tidak menyerah. Yang menyerah waktu itu Fakhri Husaeni dan Jaya Hartono, karena latihan memang begitu berat.

Sedihnya ya pemain cuma bisa mengeluh saja. Pemain sempat mengeluh ‘Ini latihan untuk kompetisi atau kuli borongan ini. Ini latihan bola atau apa’. Semua mengeluh, tapi semua kerja dengan tanggung jawab.

Kita sama-sama kompak. Antara senior junior kompak, kita punya satu tujuan. Kita harus meraih juara. Kompak, tanggung jawab, disiplin. Itu yang saya rasakan waktu di SEA Games.

Oh ya ada satu cerita lucu saat persiapan SEA Games. Jadi waktu kita naik gunung di Bandung daerah Cimahi. Kan naik gunung jalannya satu-satu, jalan setapak dan ada kalanya kita harus memanjat juga. Waktu itu Sudirman [bek timnas] sampai buang air besar di jalan. Hahaha.

Jadi waktu kita pas lari ke atas, otomatis lewat dan injak kotoran dia. Soalnya dia buang air besarnya juga pas lagi lari. Sepertinya dia memang sengaja juga. Iseng, biar orang-orang yang belakangnya kena. Apalagi pas posisi manjat, kotorannya sampai kena ke tangan kita. Dia memang iseng, tapi kita nggak ada yang sampai berantem.

Singkat cerita, menjelang berangkat ke Filipina pemain itu sempat pesimistis. Semua orang kurang percaya dengan tim ini. Tapi itu justru jadi motivasi buat pemain-pemain, ingin untuk membuktikan.

Intinya kami semua punya prinsip, bahwa kita sampai final SEA Games mungkin main lima kali. Hitungannya setiap main harus menang, pokoknya harus menang, dan harus lolos. Itu tekad semua pemain. Kami memang sangat kompak. Pokoknya hajar-hajar sajalah yang penting bisa menang. Akhirnya kami berhasil lolos ke semifinal dengan menyapu bersih semua laga grup dengan kemenangan.

Di semifinal SEA Games kami juga berhasil mengalahkan Singapura lewat adu penalti. Singapura waktu itu sudah bagus, pokoknya lawan kami di SEA Games itu berat-berat. Final lebih berat lagi karena lawan Thailand. Kalau kita nggak punya fondasi fisik yang kuat, akan kalah. Akhirnya lawan Thailand 0-0 dan adu penalti juga. Pas penalti rasanya deg-degan terus. Pas kita menang tuh, waahh nggak bisa dilupakan kemenangan itu.

Inilah capek-capek dari persiapan ada hasilnya. Dan itu sejarah. Sejarah bagi saya sebagai pemain, sudah juara di timnas dan pernah juara di klub. Terus saat jadi pelatih saya juga pernah bawa Sriwijaya FC juara. Jadi karier saya komplet. Cuma cita-cita saya yang belum kesampaian adalah: kapan saya dikasih kesempatan untuk melatih Timnas Indonesia?

Juara dan membawa tim Liga 2 promosi ke Liga 1, itu sudah diraih. Waktu jadi pemain saya pernah juara bersama Krama Yuda Tiga berlian pada 1988, terus juara di Arseto Solo 1991. Sudah kompletlah dari pemain sudah juara di klub dan Timnas dan jadi pelatih juga sudah juara.

Kembali lagi ke cerita SEA Games, pas juara SEA Games itu semua pemain menangis. Nangis kesenangan. Semua nama pemain saat itu juga terangkat. Bahkan waktu itu nama klub saya yaitu Krama Yuda Tiga Berlian juga jadi ikut terangkat. Namun dulu kehebohan juaranya beda ya dengan sekarang. Kalau sekarang medianya banyak. Dulu hanya koran-koran saja. Tapi saya puas dengan pencapaian itu, sebab catatan sejarahnya sampai sekarang.

Medali emas itu pun masih saya simpan di rumah. Waktu itu kami dapat bonus sekitar Rp5 juta per pemain, sama ada uang bonus seumur hidup senilai Rp100.000 per bulan. Sampai sekarang masih ditransfer. Mungkin kalau dulu 1991 nominal itu mungkin masih besar, cuma sekarang nggak ada artinya.

Jadi kunci utama Indonesia bisa juara di SEA Games itu adalah kerja keras, kompak baik pelatih dan pemain. Tidak kayak sekarang, fasilitas sudah bagus, dulu fasilitas minim, dan sorotan media kurang.

Sekarang enak tidur di hotel mewah. Dulu kami tidur di villa-villa. Dulu bayaran Timnas cuma Rp350 perak sebulan. Sementara di klub saya sebulan Rp400 perak sebulan. Tapi yang penting semua bangga sama penampilan kita hingga bisa juara SEA Games 1991.

Pesan saya untuk Timnas Indonesia U-22 mudah-mudahan untuk adik-adik tahun ini bisa meraih medali emas yang sudah 32 tahun belum pernah meraih lagi. Ini kesempatan yang bagus. Adik-adik sudah tahu cara terbaik untuk meraih juara di SEA Games nanti.